Selasa, 23 Desember 2008

Tahun Berat, Tahun Berkat

(Catatan Kecil Pembuka Tahun 2009)

Oleh: Sandra Rondonuwu, STh, SH.

Ingat krisis moneter 10 tahun lalu? Ketika itu orang-orang bilang, “Indonesia boleh krismon, mar torang tetap Kristmas!” Kalimat ini adalah ekspresi untuk mengatakan bahwa, ketika (waktu itu) orang kerepotan untuk urusan makan sehari pun, kita di Sulawesi Utara yang mayoritas penduduknya merayakan natal, justru sedang menikmati “pesta” hal mana dilakukan setiap kali menjelang dan merayakan natal.
Entahlah. Apakah kalimat di atas merupakan pernyataan bijak atau sekedar celoteh untuk mengungkapkan betapa tradisi konsumtif sudah menjadi bagian dari rakyat SULUT. Apapun itu, situasinya jelas berbeda dengan krismon yang terjadi 10 tahun lalu. Menurut sejumlah pakar, situasi sekarang ini justru lebih parah karena krisis justru dimulai dari negara-negara besar yang sebenarnya fondasi ekonominya justru lebih kuat dari negara-negara yang terkena imbas. Di Amerika misalnya, pembiayaan sektor perumahan yang berdampak pada keseluruhan ekonomi negaranya telah mengancam sejumlah industri termasuk otomotif yang belakangan ini terjadi perdebatan. Nampaknya pula tuan Obama akan mengkonsentrasikan dana di negaranya untuk mempebaiki fundamen ekonomi negaranya yang sedang rapuh.
Begitupula dengan konglomerasi industri global, trans nasional coorporation, pasti akan mencadangkan dana segar mereka untuk melakukan perlindungan terhadap situasi yang masih fluktuatif ini. Secara global, imbas yang terjadi adalah ekonomi dunia melambat yang berujung pada resesi bahkan kebangkrutan beberapa industri yang selama ini menghidupi sejumlah basis ekonomi riil seperti pertanian, perikanan, peternakan, dan industri kerajinan. Di Sulawesi Utara jelas dampak krisis ekonomi global tak terhindarkan.
Ekspor pala kita masih sulit, kopra masih bertahan di harga yang tidak relevan dengan kost petani, cengkih yang mestinya bulan-bulan seperti sekarang sudah keluar “kuku tikus” (baca:cikal) untuk kira-kira pada bulan agustus-november tahun depan akan memberikan “emas cokelatnya”, malah sudah dipastikan pohon andalan mayarakat Sulut ini sedang seret alias pelit berbuah. Di situasi seperti ini memang sangat riskan bagi kita untuk berperilaku boros atau konsumtif. Meski kita baru melewati X-mas dengan suasana meriah dengan diwarnai oleh peningkatan pola konsumsi.
Yang tertinggal barangkali adalah piring-piring kotor beserta sejumlah tagihan yang harus segera ditebus pada awal-awal tahun 2009 ini. Betapapun situasi ekonomi kita, baik yang beruntung dan pun kurang beruntung, berhentilah kita tidur nyenyak karena krisis ekonomi memang benar-benar akan menghantui kita. Gejala krisis ini akan nampak mulai dari menjadi kurang enaknya makanan yang disajikan di dapur-dapur rumah tangga. Harga sembako yang kemarin melonjak saat harga BBM naik, belum juga turun walau harganya dikurangi sedikit. Sementara akibat dari krisis ekonomi global sejumlah perusahan memang mulai melakukan PHK untuk mengurangi beban pembiayaan perusahan atau memang benar-benar sudah mengalami kebangkrutan. Padahal daya beli petani kita pun masih jauh dari yang diharapkan. Salah satu akibat dari turunnya nilai tukar petani adalah langkahnya pupuk bersubsidi yang menyebabkan hasil panen berkurang sekaligus membuat sebagai lahan ditelantarkan karena tidak mampu menanggung biaya overhead.
Di satu pihak, ekspektasi konsumsi masyarakat semakin tinggi, semisal tambahan kebutuhan komunikasi seperti pulsa, hp, cicilan motor, perabotan, dan sejumlah alasan untuk pengeluran takterduga membuat pendapatan minimum seorang manusia Indonesia kini berada jauh dari penghasilan yang diperoleh. Semisal berdasarkan UMP, seorang karyawan memperoleh gaji 700 ribu rupiah, maka dalam sehari ongkos yang ditanggung mencapai 25.000 rupiah. Sementara kebutuhan dasar setiap manusia normal dapat mencapai 40.000 rupiah yang terdiri dari, makan 3 kali minimal 20.000, transport berkisar 10.000 rupiah, kebutuhan lain seperti sabun mandi, pasta gigi, bedak, minyak rambut, pembalut, dan lain-lainnya 10.000 rupiah. Ini masih diluar pulsa dan kartu perdana yang diganti gara-gara habis masa belaku, plus biaya depresiasi (penyusutan) terhadap baju, sepatu, dan barang-barang sandang yang kesehariannya menyusut. Nah, bagaimana dengan mereka yang perokok?
Maka, untuk kebutuhan dasar saja seorang manusia normal yang bergaji UMP harus nombok 15.000 rupiah per hari atau sekitar 450.000 per bulan. Itu untuk orang yang masih dapat bekerja dan mampu menghidupi dirinya sendiri. Belum lagi kalau asumsi mereka yang tidak bekerja dan atau yang bekerja tapi tidak mampu mencapai garis pra sejahtera alias benar-benar miskin, maka data BPS, Indonesia yang mengoleksi paling tidak mencapai 40 juta jiwa maka negara akan sangat kesulitan dan sebagian besar APBN kita akan terserap untuk melindungi orang miskin sesuai dengan UUD 45.
Semua angka ini dipatok pada kemampuan seseorang mendapatkan kebutuhan primer yakni pangan alias sembako. Karena itu, menjadi tepat kalau pemerintah seharusnya memfokuskan program pengurangan kemiskinan dengan memformulasikan harga sembako yang terjangkau. Dan ini sangat membutuhkan komitmen stakeholder perekonomian nasional. Sembako murah juga harus berarti produksi pangan bagus, yang juga berarti pupuk murah, bibit murah, dan segala sesuatu mampu dijangkau dengan valuasi mata uang yang relatif murah.
Kampanye “Sembako Murah”, PDI Perjuangan memang merupakan agenda brilian untuk keluar dari situasi yang menyeramkan ini. Padahal bangsa Indonesia dikaruniakan Tuhan tanah yang subur, laut yang luas dengan kekayaan yang tiada tara, kekayaan tambang yang habis dikeruk kapitalis asing, toh kita masih mengoleksi penyakit busung lapar, penyakit kurang gizi, penyakit aneh akibat mengkonsumsi makanan daur ulang sisa hotel berbintang, atau karena memakan makanan pengawet formalin agar bisa murah, dan sejumlah penyakit-penyakit turunan yang diakibatkan karena kekurangan pangan dan bahan-bahan pokok sehari-hari.
Dilema pemerintah yang terlanjur menaikan harga BBM yang kemudian diturunkan sedikit terlanjur menyebabkan inflasi yang juga ikut menggerek pembiayaan produksi seperti bahan baku, biaya transportasi, hingga biaya tarif listrik, tarif telpon, tarif pengiriman barang, tarif cukai, dll, yang sangat membebani kita. Sehingga menurunkan harga BBM tidak serta merta dapat diikuti oleh semua komponen pembiayaan yang terlanjur naik.
Sebagai orang awam, tentu saya tidak mengerti formula ekonomi sehingga situasi normal dapat tercapai. Namun sebagai masyarakat yang mengalami keras dan sulitnya situasi ekonomi akhir-akhir ini, tentu kita tidak bisa lagi berpura-pura sedang aman-aman sementara kita tahu persis bahwa lumbung persediaan kita mulai menipis. Di tengah tuntutan pembiayaan yang makin meningkat, mulai dari kebutuhan pokok, biaya lain seperti biaya pendidikan anak-anak, biaya kesehatan tak terduga, biaya kerohanian, biaya entertainmen, dan biaya sosial lainnya, kita semua memahami bahwa kita kini berada dalam tekanan sosial yang sangat tinggi, konflik horizontal sangat rentan bahkan berdampak pada terganggunya stabilitas sosial dan politik. Kecuali itu, satu hal yang sangat kita semua mengerti adalah, pertanian merupakan benteng terakhir perekonomian nasional yang mampu bertahan dari situasi krisis apapun. Tak ada satu krisis apapun yang mampu mencegah ubi, jagung, sayur ubi, sayor gedi, sayur kankong, sayur popaya, sambiki dan sejumlah tanaman seharian kita untuk tidak tumbuh karena apapun. Dunia boleh tegang, ekonomi boleh kolaps, tapi tanah yang subur akan tetap terus menghasilkan tanaman yang sehat dan bergizi untuk kita konsumsi.
Sayangnya kita terkadang menjadi lupa dan sering menjadi latah bahkan sok ngetren untuk mencari sayur mayur di super market. Bahkan mungkin, masih ada di antara kita yang membeli salimbata/bramakusu/serei, kuning/kunyit, goraka/jahe, bawang, dll, yang semuanya tumbuh liar dan berseliweran di belakang rumah kita. Susu kurkuma yang lagi ngetren dan sangat diminati para ibu untuk dikonsumsi anak-anaknya untuk “membuka gergantang” (baca: makan lancar), itu hanyalah susu biasa yang dicampur ekstrak goraka, apa bedanya dengan aer sarabak (aer susu jahe) yang dijual mas-mas di pinggiran jalan Bulevar sebelum digurus Satpol PP.
Contoh yang paling praktis dan paling menggelikan adalah rica alias cabe rawit yang setiap tahunnya naik hingga 3000%. Satu kali perkillo Cuma 2500, lain kali perkilonya meroket hingga 70.000. Anehnya, biar pun istilah kasar bibit rica dari kotoran manusia bisa tumbuh di tempat kotoran itu dibuang, toh tetap saja kita sangat-sangat dan sangat malas untuk menanam rica biar pun cuma untuk konsumsi sehari-hari bila mau makan mie dan perlu rica manta.
Begitupun dengan minyak kelapa yang meluluh kita menggunakan minyak sawit yang dibeli dalam kemasan. Kelihatan bening, tapi pakai pewarna. Lalu karena terpengaruh iklan, menganggap minyak kelapa olahan kita yang berkolestrol sementara yang dibeli dalam kemasan tidak berkolestrol. Semua logika konsumtif itu salah!!! Kalau tidak percaya tanya ahlinya. Yang harus kita lakukan adalah mulailah menggunakan minyak kelapa buatan sendiri, sisa olahan biasa disebut tai minya justru sangat enak untuk dioleh menjadi dabu-dabu tai minya, jauh lebih enak dari pada sambal kemasan yang dijual disupermarket. Minyak olahan sendiri jauh lebih sehat dan kaya akan protein dan antioksidan. Makanya Virgin Coconut Oil (VCO) yang diolah dari minyak kelapa murni sangat berkasiat untuk mengobati berbagai macam penyakit, baik yang sekadar flu biasa hingga stroke sekalipun. Ingat kalau kita keracunam selalu disarankan untuk minum santan. Nah VCO ini paling kurang adalah extrak santan yang diproduksi alami tanpa pemanasan. Begitu juga dengan santan/santang kelapa yang sangat sehat, bisa langsung dibuat dari kelapa segar, tidak perlu membeli santan kara yang berada di rak supermarket.
Yang paling mengejutkan kita adalah snack hasil karya Indofood yang laris manis di pasaran adalah, Qtela, yang isinya adalah ubi kayu goreng tipis. Tidak jauh lebih baik dengan ubi goreng/kripik yang didorong oleh mas-mas tukang jual krepek ubi. Atau O’corn yang diproduksi dalam kemasan mewah, tidak jauh lebih renyah dan krepes dengan “milu letok” (milu goreng) yang biasa dulu mamak-mamak goreng campur dengan siraman gula aren. Ada lagi minyak urut dan minyak hangat yang tidak lebih berfaeda dibanding dengan minyak mujarab Tawaang. Dan yang membuat saya shok, beras super enak, superwin, hasil temuan petani Maesaan-Tompaso Baru, kini sudah dibranded oleh pedagang besar dan dijual di hiper market di Manado. Begitu juga dengan brown sugar yang disajikan di Hotel bintang-bintang ternyata berasal dari gula batu yang tak usah kita sebut brown sugar (baca: gula berwarna cokelat). Atau mulai meninggalkan kacang Garuda dan Dua Kelinci, karena kacang Kawangkoan yang kacangnya banyak diproduksi dari Minsel dan Mitra, justru jauh lebih enak, garing, dan bergizi.
Tahun 2009 memang tahun berat, tapi kalau lahan rumah di halaman rumah kita, apalagi kalau kita punya sebidang tanah saja, dan kita mulai menanami apapun tanaman yang bermanfaat di setiap jengkal tanah kita, maka yakinlah tahun 2009 ini akan menjadi tahun berkat dan sudah pasti dengan iman kepada Tuhan, kita akan menikmati hari demi hari dengan sukacita dan damai. Selamat Tahun Baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar