Aroma spekulas menyeruak memberi selerah bagi setiap orang yang mencicipi kue khas negeri kincir angin. Siapa sangka, kue yang kemudian akrab pada acara-acara thanksgiving dan natal ini komposisinya sebagaian besar bahan bakunya justru datang dari wilayah nusantara.
Mulai dari kayu manis, cengkih, vanili, hingga leburan gula arennya, hampir seluruhnya merupakan rempah-rempah yang justru banyak ditemui di tanah Minahasa. Hal ini seakan mengasosiasikan kita bahwa selama pendudukan kolonial kompeni, rempah-rempah mulai dari kelapa (kopra), vanili, pala, cengkih, dll merupakan komoditas-komoditas favorit yang paling dicari dan bahkan menjadi keuntungan tak tertara dalam perdagangan rempah dunia.
Andreas Maryoto dalam tulisannya melaporkan catatan sejarawan Yunani, Herodotus, pada abad V Sebelum Masehi tentang perjalanan rempah yang mengambil peran penting dalam sejarah petualangan bangsa Eropa menjelajahi dunia. keinginan orang-orang Eropa untuk memburuh rempah di tempat-tempat penghasil rempah. Sebegitu penting dan mempenasarankan, rempah di jaman itu digambarkan oleh Jhon Keay, dalam buku The Spice Route dengan sangat unik. Bahwa, hanya burunglah yang tahu asal rempah-rempah karena konon rempah kayu manis berasal dari sarang burung yang tentu juga berasal dari tempat yang tidak diketahui.
Dengan demikian, maka rempah menjadi komoditas yang sangat menggemaskan bahkan mendorong ekspedisi sejumlah penglana Eropa untuk mengelilingi dunia. Kala itu, perdagangan rempah dikuasai oleh pedagang asal Arab yang dikenal telah menjejali nusantara dan berdagang dengan penduduk-penduduk lokal.
Seorang penjelajah China bernama Fahien mencatatat dalam satu tulisan berbahasa Inggris dengan judul A Record of Buddhistic Kingdoms yang ditulis pada abad IV menyebutkan bahwa para pemburuh rempah itu masuk ke Nusantara melalui jalur India-China yang melalui Selat Sunda. Jalur lain melalui Semenanjung Malaya.
Seluruh hasil rempah-rempah dari Nusantara dibawa dari berbagai tempat menuju pelabuhan di Semenanjung Malaya itu, kemudian dibawa melalui jalur darat dan juga kembali melalui jalur laut menuju Arab dan Eropa. The Spice Route menyebutkan Alexadria Manifest memuat catatan sekitar 54 komoditas yang terkena bea masuk pada abat ke V, dan hampir keseluruhan komoitas tersebut adalah rempah-rempah yang dalam bahasa inggris disebut dengan kata spice, yakni penyebutan untuk rempah-rempah jenis kayu manis, pala, cengkih.
Seorang Marco Polo pun telah menyebut beberapa tempat di Nusantara yang menghasilkan rempah-rempah. Beberapa pengelana lainnya juga mulai memasuki wilayah Nusantara dan menyebut beberapa tempat yang menjadi penghasil rempah-rempah.
Sejak saat itulah, maka ramailah jalur pelayaran menuju nusantara yang dengan tujuan utama memburuh rempah yang makin terkenal itu. Protugis, Italia, Inggris, Spanyol, dan Belanda kemudian tercatat menjadi negara-negara Eropa yang dengan kedigdayaan mereka menjadi kolonialis pada bangsa-bangsa yang dihisap sumberdaya alamnya dan kemudian menguasai segala aspek ekonomi bahkan politik yang ternyata dimulai dari perburuan sumber rempah-rempah.
Minsel Yang Melimpah
Johny. Begitu nama laki-laki tukang tifar di salah satu desa Motoling, Minahasa Selatan. Berbekal pisau, penampung yang terbuat dari bambu, dan peralatan rakitan seadanya, ia seharinya dapat memproduksi cairan alkohol berkadar 40% yang kemudian dipasok pada pembeli besar di kampungnya selanjutnya dipasok ke pabrik-pabrik minuman keras. Ia menjadi satu dari ribuan orang Minahasa Selatan yang menggantungkan pencaharian dari hasil menyuling nira yang di tanah Minahasa akrab di sebut cap tikus. Adalah merek dagang minuman beralkohol yang ternyata dicipta oleh para pedangan Tionghoa sekitar 500 tahun lalu saat kapal-kapal penglana spanyol mendarat di Kuala Jengki kala itu.
Maka, klop sudah, wilayah “Minahasa Enteru” kemudian menjadi surga bagi kolonial untuk mengeruk apa saja yang bernama rempah, untuk kemudian menjadikan kemegahan negara-negara kaya Eropa masa kini.
Di antara penghasil rempah Minahasa Selatan yang juga bagian dari Minahas Raya kala itu ternyata menyimpan potensi yang sangat besar. Tercatat produksi kelapa/kopra terbesar di Suluwesi Utara dengan potensi mencapai 8 juta pohon kelapa menjadikan ekonomi masyarakatnya relatif mampu bertahan dari hantaman berkali-kali krisis ekonomi, inflasi, dan kenaikan BBM.
Tak hanya itu, Minsel yang dikaruniakan Tuhan tanah yang subur juga menjadi surga bagi tanaman cengkih, vanili, pala, kayu manis, seho, dan sejumlah tanaman rempah lainnya. Secara umum, Minahasa Selatan boleh dibilang pusat penghasil rempah terbesar di Sulawesi Utara, atau bahkan mungkin seIndonesia. Entahlah. Tapi yang jelas, daerah ini diberkati Tuhan dengan berbagai keunggulan dibidang pertanian dan perkebunan.
Sayangnya keunggulan ini (comparative advantage) masih pada taraf produksi bahan mentah yang secara ekonomis nilai-nilai keuntungan masih belum dinikmati secara penuh oleh petaninya. Lihat bagaimana kopra, cengkih, vanila, seho, kayu manis, dll, masih dipasok ke produsen-produsen nasional bahkan internasional.
Seolah tidak lepas dari pola kolonial, petani kita hanya sebatas penghasil dan keuntungan pelipatgandaan modal dinikmati negara-negara besar.
Rakyat Pelaku Utama
Barangkali momen perayaan kemerdekaan Indonesia yang ke 63 ini menjadi saat yang tepat untuk melihat kembali secara sadar. Apakah kita bangsa Indonesia akan terus menerus sekadar menjadi negara sumber bahan mentah, lalu diproduksi negara lain dan dipasarkan kembali ke Indonesia?
Coba lihat bagaimana yang terjadi dengan kopi. Indonesia dikenal dengan hasil kopi berkualitas nomor satu di dunia. Tapi sayangnya, kopi yang kita hasilkan yang justru dipasarkan di Indonesia adalah kopi bermerek dan berlisensi luar negeri dan ironisnya justru dipasarkan di Indonesia sendiri. Hal serupa juga terjadi dengan komoditi lain seperti minyak goreng, brown sugar, dan sejumlah produk jadi lainnya yang tidak lain berasal dari bahan mentah dalam negeri.
Minahasa Selatan sendiri, sebagai satu daerah otonom melalui Bupati Drs. R.M. Luntungan menggagas sebuah program yang ingin mengembalikan kejayaan rempah seperti masa-masa silam. Sebuah gagasan yang jelas memang bertumpuh pada realitas bahwa Minahasa Selatan sangat kaya akan sumber rempah yang memang telah mendunia. Gagasan yang tentu diharapkan dapat menjadi program bersama stakeholder justru untuk mengangkat ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat
Walau memang catatan kritis di sini adalah, program yang cemerlang ini tentu harus diikuti pula dengan kerja kolektif dan sungguh-sungguh bahwa cita-cita Minsel menjadi pusat rempah dunia harus diikuti oleh partisipasi rakyat, buruh tani, bahwa Minsel Pusat Rempah Dunia adalah milik dari seluruh rakyat untuk kesejahteraan rakyat. Di sinilah petani dan rakyat secara keseluruhan harus menjadi subjek utama dari program ini, tentu setelah belajar dari program-program sebelumnya yang masih perlu dikoreksi dan dikritisi.
Karena itulah, maka tugas bersama kita tentu adalah bagaimana meniternalisasi gagasan ini kepada rakyat sebagai pelaku utama. Kita toh tidak ingin mentereng dalam proses pencanangan serta seremonial belaka tapi kenyataannya rakyat tidak memiliki dampat langsung dan malah menjadi pesimis dengan program-program serupa.
Secara keseluruhan tentu kita harus sambut gagasan ini dengan antusias dan penuh harapan, bahwa Minahasa Selatan yang memang sangat subur ini, perlu lagi ditingkatkan produksi rempah dan bahkan kalau bisa, sudah langsung mengarah pada tahap menjadi daerah pengolah bahan baku seperti gula aren menjadi gula semut—init tentu tidak susah lagi karena memang pabriknya sudah tersedia, atau hasil dari pohon seho seperti cap tikus yang dijadikan minuman branded khas Minahasa Selatan, hingga memproduksi rempah seperti temu lawak, jahe, dan rempah lainnya sehingga multiplier effect akan mendongkrak kemampuan ekonomi rakyat pada gilirannya pertumbuhan ekonomi dapat bergerak ke arah yang positif.
Sejumlah cita-cita ini tentu menjadi harapan rakyat Minahasa Selatan agar Pemerintah secara serius memperhatikan nasib petani di tengah himpitan ekonomi bangsa yang terpuruk. Cita Waya Esa.
Penulis adalah Petani, dan Koordinator Komunitas Berdiri Sejajar.
Senin, 15 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar